Gadis berbalut jilbab yang anggun
Matanya seakan menarik sejuta pesona
Senyumnya seakan dekat dengan malaikat
Suaranya seperti bidadari yang mengagungkan syair cinta Rasulullah
Gadis itu duduk sendiri melihat hujan malam itu
Diam tanpa menghiraukan lingkungannya
Aku terpaku diantara anak muda yang menunggu hujan reda
Melihat Gadis itu mencari arti yang dimaksud-Nya
Aku tak tahan melihat dia
Mengartikan apa yang terbesit dihatinya
Aku hanya bisa membatin ”lihatlah aku yang merindukanmu”
Namun angin pun tak sanggup menembus rinduku untuknya
Andai dia tahu hujan adalah perwakilan air mataku
Mungkin dia akan kasihan atau malah sebaliknya
Andai dia membenciku aku tak akan membencinya
Aku akan berdoa untuknya meskipun aku hamba yang perlu didoakan
Semakin lama aku melihat gadis anggun itu
Perasaan halus ini tak mampu menahan rintihan kesedihan
Aku pun pergi meninggalkan tempat itu tanpa sedikitpun memandangnya
Walau dihatiku merasa ”dia membenciku”
Aku berlari melawan hujan mengejar arah tak pasti
Dua kalimat aku adu ke langit yang meneteskan hujan
Ya Robb jikalau ini karunia dekatkanlah aku dengan dia
Ya Robb jikalau ini cobaan, maka berilah kesabaran dan keihlasan tanpa batas
Aku tak mau menyelaminya lebih dalam
Hatiku akan kukembalikan ke khittahnya
Cukup aku mengaguminya rasanya sudah cukup
Cukup aku melihatnya setiap hari itu sudah cukup
Aku tersadar aku tak boleh berharap lebih
Yang kuharap hanya ampunan-MU, ridha-MU
Ya Allah penguasa alam semesta
Berikan aku kesadaran yang terlampau buta akan cinta dunia dan nafsu
Magelang, 120817130124
Tampilkan postingan dengan label Puisi Berjilbab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Berjilbab. Tampilkan semua postingan
Puisi Berjilbab #3
Terkadang aku benci dengan yg namanya 'Waktu'. Karena aku tak ingin kehilangan saat-saat terindah bertemu denganmu, yang selalu saja dibawa pergi oleh 'Waktu', dan meninggalkan kenangan yang membekas di hatiku...
Sungguh kubenci 'Waktu', yang seenaknya saja mempertemukan kita, lalu meninggalkan bekas di dalam dada, getaran tak menentu yang tak pernah kutahu namanya...
Aku ingin tak ada 'Waktu', sehingga aku mampu memahami setiap saat yang tercipta ketika kita bertemu...
Sayangnya, 'Waktu' tetap ada di antara aku dan kamu, dan 'Waktu' jua lah yang justru mengatur setiap perjumpaan & pertemuan kita yang membekas di hatiku...
Sungguh kubenci 'Waktu', yang seenaknya saja mempertemukan kita, lalu meninggalkan bekas di dalam dada, getaran tak menentu yang tak pernah kutahu namanya...
Aku ingin tak ada 'Waktu', sehingga aku mampu memahami setiap saat yang tercipta ketika kita bertemu...
Sayangnya, 'Waktu' tetap ada di antara aku dan kamu, dan 'Waktu' jua lah yang justru mengatur setiap perjumpaan & pertemuan kita yang membekas di hatiku...
Puisi Berjilbab #2
jika setetes embun sanggup memuaskan dahaga
maka cukuplah senyummu untuk memuaskan hatiku
karena tidaklah penting arti perasaanku padamu
melainkan arti kehadiranmu bagi hidupku
kau tahu bahwa bintang-bintang bercahaya karena mereka bertasbih memuja-Nya
begitu juga aku ingin malamku bertasbih karena memikirkanmu
karena tiadalah waktu berguna selain mengingat semua anugerah-Nya
dan ku syukuri pertemuan kita sebagai bagian dari kehendak-Nya
aku bagaikan pelaut yang kehilangan arah pelayaranku
dan maukah engkau menjadi navigator untukku
untuk menunjukkan jalan yang benar dan damai
menuntun arah menuju kebahagiaan nan permai
seorang perempuan diciptakan dari seorang laki-laki
dan adalah rusuk yang hilang yang mesti dicari
mungkinkah dirimu yang berjilbab itu?
semoga ku temukan jawabannya lewat tiap senyuman yang menghantui doa-doa ku...
maka cukuplah senyummu untuk memuaskan hatiku
karena tidaklah penting arti perasaanku padamu
melainkan arti kehadiranmu bagi hidupku
kau tahu bahwa bintang-bintang bercahaya karena mereka bertasbih memuja-Nya
begitu juga aku ingin malamku bertasbih karena memikirkanmu
karena tiadalah waktu berguna selain mengingat semua anugerah-Nya
dan ku syukuri pertemuan kita sebagai bagian dari kehendak-Nya
aku bagaikan pelaut yang kehilangan arah pelayaranku
dan maukah engkau menjadi navigator untukku
untuk menunjukkan jalan yang benar dan damai
menuntun arah menuju kebahagiaan nan permai
seorang perempuan diciptakan dari seorang laki-laki
dan adalah rusuk yang hilang yang mesti dicari
mungkinkah dirimu yang berjilbab itu?
semoga ku temukan jawabannya lewat tiap senyuman yang menghantui doa-doa ku...
Puisi Berjilbab #1
(Untuk Ikke Meyzilva)
senyum yang dilapisi keikhlasan diri
mengajak hati sejenak bertafakur dalam mimpi
bahkan selalu ada keteduhan di sela² bibirmu
tatkala senyuman bidadari itu meniupkan getar² tak menentu di dadaku
mungkinkah segalanya hanya ilusi semata?
dan hanya dirimu yg realita
karena langit pun akan kecewa ketika kau diam
dan dunia tak lagi ceria ketika kau muram
maka tersenyumlah agar duniaku menjadi cerah
dan terbangkan hati itu untuk kuraih dengan segala amanah
senyum yang dilapisi keikhlasan diri
mengajak hati sejenak bertafakur dalam mimpi
bahkan selalu ada keteduhan di sela² bibirmu
tatkala senyuman bidadari itu meniupkan getar² tak menentu di dadaku
mungkinkah segalanya hanya ilusi semata?
dan hanya dirimu yg realita
karena langit pun akan kecewa ketika kau diam
dan dunia tak lagi ceria ketika kau muram
maka tersenyumlah agar duniaku menjadi cerah
dan terbangkan hati itu untuk kuraih dengan segala amanah
Langganan:
Postingan (Atom)
