Tampilkan postingan dengan label Segenggam Cinta untuk Akhwat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Segenggam Cinta untuk Akhwat. Tampilkan semua postingan

Puisi Berjilbab#4

Gadis berbalut jilbab yang anggun
Matanya seakan menarik sejuta pesona
Senyumnya seakan dekat dengan malaikat
Suaranya seperti bidadari yang mengagungkan syair cinta Rasulullah

Gadis itu duduk sendiri melihat hujan malam itu
Diam tanpa menghiraukan lingkungannya
Aku terpaku diantara anak muda yang menunggu hujan reda
Melihat Gadis itu mencari arti yang dimaksud-Nya

Aku tak tahan melihat dia
Mengartikan apa yang terbesit dihatinya
Aku hanya bisa membatin ”lihatlah aku yang merindukanmu”
Namun angin pun tak sanggup menembus rinduku untuknya

Andai dia tahu hujan adalah perwakilan air mataku
Mungkin dia akan kasihan atau malah sebaliknya
Andai dia membenciku aku tak akan membencinya
Aku akan berdoa untuknya meskipun aku hamba yang perlu didoakan

Semakin lama aku melihat gadis anggun itu
Perasaan halus ini tak mampu menahan rintihan kesedihan
Aku pun pergi meninggalkan tempat itu tanpa sedikitpun memandangnya
Walau dihatiku merasa ”dia membenciku”

Aku berlari melawan hujan mengejar arah tak pasti
Dua kalimat aku adu ke langit yang meneteskan hujan
Ya Robb jikalau ini karunia dekatkanlah aku dengan dia
Ya Robb jikalau ini cobaan, maka berilah kesabaran dan keihlasan tanpa batas

Aku tak mau menyelaminya lebih dalam
Hatiku akan kukembalikan ke khittahnya
Cukup aku mengaguminya rasanya sudah cukup
Cukup aku melihatnya setiap hari itu sudah cukup

Aku tersadar aku tak boleh berharap lebih
Yang kuharap hanya ampunan-MU, ridha-MU
Ya Allah penguasa alam semesta
Berikan aku kesadaran yang terlampau buta akan cinta dunia dan nafsu


Magelang, 120817130124

Puisi Berjilbab #3

Terkadang aku benci dengan yg namanya 'Waktu'. Karena aku tak ingin kehilangan saat-saat terindah bertemu denganmu, yang selalu saja dibawa pergi oleh 'Waktu', dan meninggalkan kenangan yang membekas di hatiku...

Sungguh kubenci 'Waktu', yang seenaknya saja mempertemukan kita, lalu meninggalkan bekas di dalam dada, getaran tak menentu yang tak pernah kutahu namanya...

Aku ingin tak ada 'Waktu', sehingga ak
u mampu memahami setiap saat yang tercipta ketika kita bertemu...

Sayangnya, 'Waktu' tetap ada di antara aku dan kamu, dan 'Waktu' jua lah yang justru mengatur setiap perjumpaan & pertemuan kita yang membekas di hatiku...

Puisi Berjilbab #2

jika setetes embun sanggup memuaskan dahaga
maka cukuplah senyummu untuk memuaskan hatiku
karena tidaklah penting arti perasaanku padamu
melainkan arti kehadiranmu bagi hidupku

kau tahu bahwa bintang-bintang bercahaya karena mereka bertasbih memuja-Nya
begitu juga aku ingin malamku bertasbih karena memikirkanmu
karena tiadalah waktu berguna selain mengingat semua anugerah-Nya
dan ku syukuri pertemuan kita sebagai bagian dari kehendak-Nya

aku bagaikan pelaut yang kehilangan arah pelayaranku
dan maukah engkau menjadi navigator untukku
untuk menunjukkan jalan yang benar dan damai
menuntun arah menuju kebahagiaan nan permai

seorang perempuan diciptakan dari seorang laki-laki
dan adalah rusuk yang hilang yang mesti dicari
mungkinkah dirimu yang berjilbab itu?
semoga ku temukan jawabannya lewat tiap senyuman yang menghantui doa-doa ku...

Puisi Berjilbab #1

(Untuk Ikke Meyzilva)

senyum yang dilapisi keikhlasan diri
mengajak hati sejenak bertafakur dalam mimpi

bahkan selalu ada keteduhan di sela² bibirmu
tatkala senyuman bidadari itu meniupkan getar² tak menentu di dadaku
mungkinkah segalanya hanya ilusi semata?
dan hanya dirimu yg realita

karena langit pun akan kecewa ketika kau diam
dan dunia tak lagi ceria ketika kau muram
maka tersenyumlah agar duniaku menjadi cerah
dan terbangkan hati itu untuk kuraih dengan segala amanah

untuk sebuah nama

ingin lama aku berhenti, memandangmu penuh arti
memahami tiap detik ketika kau terduduk membisu
ketika kau goreskan senyum manis di bibir tipismu
ataukah ketika tanpa sengaja kutatap matamu
melukiskan keindahan dunia
yang tergambar ketika jantung berdebar-debar

ingin lama aku pahami
tentang bait-bait rindu yang kulantunkan setelah dzikirku
dan seperti seorang penyair, ingin aku menulis di air
mengolah kata penuh cinta
seperti ketika senyum lembutmu goreskan nada-nada
yang mendebarkan getar di dada

sebab banyak yang hilang
ruang dan waktu yang kering
meraup sumpah, menumpahkan sujud di atas sajadah

dan aku ingin seperti yang lain
mampu duduk di sampingmu tanpa pernah berpaling
bercerita tentang nirvana dan bidadari
atau berbagi kisah-kisah Gulistan dan Matsnawi

satu saja, demi satu, jumlah nafasku tak sebanyak senyummu
tapi rinduku, telah putuskan jari yang menghitungnya
ketika senyuman perlahan mulai memudar
diambil setan-setan berwajah sangar

ruh ku pernah bertanya, siapa kau sesungguhnya?
karena Tuhanku memang ciptakan bidadari
tapi akankah serupa zahirmu?
yang membius mulutku untuk bicara padamu?

dan perasaanku adalah rasa kasih yang tak terbatas untukmu
semua harapan yang kuserahkan pada Tuhan
Yang Maha Cinta, Yang Maha Kasih dan Maha Tahu
tentang semua perasaan yang kurasakan padamu
dan kisah ini hanya Ia yang tahu, bagaimana kelanjutan episodeku?

karena tiada henti, kau hadir di setiap nafasku
seperti hantu, mengikutiku kemanapun aku berlalu
tak pernah bisa kulepas bayangmu
bahkan nomer hapemu ku ingat selalu…

sementara bahasa suram yang tertulis dalam hitam
mencari sajak untuk menghibur hati yang sedih
seperti ketika dzikirku mulai terlantun
menggubah teater waktu, mencipta teror dalam sms mu

untuk kesekian kalinya, aku terpesona keindahan bunga surga
yang ciptakan imaji dunia baru di sekitarku
mengelilingi ku, menggambar ayu rupamu

benarkah keanggunanmu selama ini semu?
apakah aku yang terlalu naif memujamu?
dan batas-batas itu yang kutahu, tersimpan di hatiku
kenyataan dan alasan, yang hanya aku dan Allah yang tahu…

081578167178

apakah kau tersembuhkan?
setelah semua duka kau salurkan?

padaku…
kau ceritakan kisahmu
padaku kau tangisi jiwamu
yang beku
dan sendiri
memendam arti cita yang hakiki

gara-gara aku…kau rindu pada kasihmu
apakah aku malaikatmu?
lalu semua dukamu sirna
setelah semuanya kau tumpahkan
bersama airmata?

hanya doa…
iringi kau yang tlah lama pergi
mencari bahagia…

~unfortunated,are u cured?